Dalam sejarah, Turki tercatat sebagai tempat peradaban Islam pernah menuai masa keemasan, Istanbul sebagai salah satu kota terbesar di negeri itu pernah menjadi
sentral kekuasaan Khalifah Utsmaniyah (Ottoman Empire) membawahi kawasan negara Islam seantero dunia, tempat khilafah islamiyah bernaung. Namun era keemasan itu
kemudian lambat laun memudar, bahkan pasca 1924 cerita tentang Khilafah itu hilang dan digantikan dengan negara Republik Turki diikuti dengan tradisi sekulerisme gagasan
Mustafa Kemal Attaturk.
Republik Turki dengan mayoritas penduduknya beragama Islam menjadikan sekulerisme sebagai ideologi negara, hal itu kemudian berakibat kepada kontrol berlebihan
negara atas aktifitas keagamaan warga negaranya, sehingga menimbulkan keresahan tersendiri bagi Muslim Turki, terutama kalangan wanita yang dilarang mengenakan jilbab
di sekolah-sekolah, universitas-universitas dan gedung pemerintahan. Bagi sebagian peneliti tradisi sekulerisme Turki sangat berbeda dengan sekulerisme di sebagaian besar
negara-negara Barat, Turki bagi mereka dikategorikan lebih ke arah tipologi radikal.
Belakangan, setelah mengalami tarik ulur kekuatan antara kalangan Islamis dan Sekuler dalam panggung demokrasi peta itu berubah. Turki kini dikenal sangat memiliki peran
strategis di kawasan Timur Tengah dan Uni Eropa, Turki adalah satu-satunya negeri Muslim yang menjadi anggota NATO, Turki pasca insiden Mavi Marmara mengutuk Israel
dan memutuskan hubungan diplomatik, bahkan karena kebijakan strategis Tukri, PM Erdogan ditetapkan sebagai satu diantara 100 orang paling berpengaruh di dunia oleh
majalah TIME tahun 2009.