Akhirnya... sampai juga... Kulangkahkan kaki ke kamar manager kosan. Mau ke atas pasti panas banget, lagipula tidak setetes pun air di atas padahal kerongkongan sudah seperti terbakar. Galon sudah tiga hari ini belum kuisi juga. Tidak sempat, sebuah alasan klasik untuk menutupi kemalasanku mengangkat galon dari warung depan.
“Aaaa....” gumamku sambil tersenyum lebar menyaksikan sebuah aqua botol besar berisi air hampir penuh di atas meja. Kebetulan pintu terbuka lebar, entah kemana beliau. Akupun duduk di kursi dan menenggak air minum di atas meja langsung dari botolnya.
Belum sempat mencapai kerongkongan, tergopoh-gopoh kugapai pintu dan menyembur setenggak air keluar dari mulutku.
“Rasanya seperti sesuatu yang kukenal...” Batinku sambil memandang sisa air yang masih kupegang.
Baru saja mau duduk lagi, tiba-tiba dari belakang ada suara, “Maaf Kak, itu minyak tanah saya ketinggalan”. Rupanya salah satu…
Buku ini telah dilihat sebanyak 1559 kali