Luwu Bugis The Antediluvian World ( pada masa dunia kuno )
0 Colour Pages & 134 B/W Pages
Kategori: Sejarah
Harga: Rp 71000

Buku ini banyak mengungkap puzzle-puzzle sejarah Manusia yang sangat kuno – yang terbenam teramat lama, terlupakan, hingga hilang dalam ingatan kolektif manusia. Puzzle-puzzle_, yang sejatinya dapat menuntun Manusia kembali mengenal siapa dan dari mana mereka berasal.

Salah satu puzzle sejarah yang terungkap dalam buku ini, adalah mengenai makna Nama “Luwu” dan “Bugis”, yang ternyata, kedua nama tersebut, sama-sama berarti "teluk". Pembuktiannya merujuk pada setidaknya tiga sumber yang saling menguatkan satu sama lain, yaitu dari bahasa Philipina, bahasa Uzbek, dan rumpun bahasa Indo-Eropa (bahasa Inggris dan bahasa Yunani kuno). Dalam bahasa Philipina, kata look (bunyi penyebutan luwuk) artinya "teluk", sementara dalam bahasa Uzbek, kata Bo'gi'z juga artinya " teluk".

Terungkapnya Etimologi Luwu yang berarti "teluk" (yang didapatkan dalam bahasa Philipina), mengungkap pula hal lain, yang selama ini telah terkubur selama ribuan tahun. Etimologi Luwu yang berarti "teluk" di sisi lain, mengarahkan petunjuk - pada keberadaan terminologi "deluge" dalam rumpun bahasa Indo-Eropa.

“Deluge” adalah sebuah kata dalam bahasa Inggris yang sangat kuno (Old English), yang kemunculannya di dalam Alkitab pada umumnya terkait mengenai pembahasan banjir bah di zaman nabi Nuh - Bentuknya latinnya: "diluvium", sementara bentuk Yunani kuno: λοέω (loéō). Kaitan nama Luwu dan teluk, tersaji nyata dalam etimologi kata deluge; dimana bentuk kata “teluk” identik dengan kata “deluge” (Old English), sementara bentuk kata “luwu” identik dengan kata “loéō” (Yunani kuno).

Dari fakta ini, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan kata "deluge" berasal dari nama "Luwu" di pulau Sulawesi, dan dalam arti lain, kemungkinan, lokasi sebenarnya dari banjir bah di masa Nabi NUh terjadi di wilayah ini.

Ini mengonfirmasi pernyataan Prof. Santos dalam buku Atlantis: “…Yang terpenting, kini jelaslah bahwa bangsa Yunani – juga bangsa Eropa dan Timur Dekat berkulit putih lainnya, termasuk Ethiopia – berasal dari sana, di Indonesia. Kemudian, belakangan mereka berpindah ke wilayah Mediterania ketika kampung halaman mereka dihancurkan dan ditenggelamkan oleh banjir, kurang lebih sama dengan pernyataan Plato dan sumber-sumber kuno lainnya....”

Dan sejalan dengan pernyataan Prof. Santos mengenai adanya migrasi dari Nusantara ke wilayah barat, dalam buku ini diurai pula temuan jejak-jejak orang dari pulau Sulawesi tersebar di berbagai wilayah di barat: di Madagaskar dan Afrika, Kawasan Persia, hingga kawasan Mediterania.

Sebagai contoh, dalam buku ini diungkap kata Saww atau Sauu yakni nama pelabuhan mesir kuno (yang menurut para ahli diperkirakan digunakan sekitar 2000 SM hingga 1000 SM) – sebagaimana yang diungkap Abdul Monem A. H. Sayed dalam tulisannya yang berjudul The Land of Punt: Problems of the Archaeology of the Red Sea and the Southeastern Delta. Nama Saww atau sauu ini memperlihatkan keidentikan dengan kata Sauh yang dalam bahasa Indonesia berarti "jangkar", dan kata sau dalam bahasa tae‘ yang berarti "lepas" (bentuk kata kerja ma'pa-sau = melepas). Kaitan ketiga kata ini (saww, sauh dan sau) dapat digambarkan dalam uraian: Pelabuhan (Saww) – adalah tempat melepas (Sau) – jangkar (Sauh). Hal ini jelas menunjukkan hadirnya unsur nusantara di mesir kuno.



You May Also Like
 

Review
 
No review yet. Be the first to review this book!

Write A Review
 
Name
 
Email
 
Review
Captcha